Free Trade Indonesia China “Aku Cinta Produk Indonesia”

20 02 2010

Hampir dua bulan berjalan atau tepatnya tanggal 1 Januari 2010 perdagangan bebas antara Cina dengan Asean -termasuk Indonesia- diterapkan. Dengan adanya perdagangan bebas ini berarti berlaku tarif masuk hingga nol persen. Lalu siapa yang diuntungkan dan di rugikan dengan adanya perdagangan bebas ini? Jika Indonesia merasa dirugikan, seberapa besarkah dampak pengaruhnya terhadap aktivitas perdagangan di Indonesia, khususnya kepada para konsumen, pedagang maupun dari pihak produsen atau perusahaan industri Qt dalam negeri. Lalu bagaimana nasib para karyawan-karyawan yang bernaung diperusahaan industri tersebut?
Jika merujuk pendapat dari kalangan ekonom, mereka memperkirakan dampak dari perdagangan bebas ini akan membuat banyak industri nasional gulung tikar karena kalah bersaing. Nah loh…., akibatnya, angka pengangguran diperkirakan melonjak. Selain itu juga melihat dari neraca perdagangan antara Indonsia – China, bukannya menunjukkan angka surflus malah menunjukkan angka defisit yang semakin lama semakin membesar dari tahun lalu. Hal ini akan mempersempit kesempatan kerja dan mempercepat proses deindustrialisasi.
Apaan tuh deindustrialisasi? mengutip dari sumber disini, yang dimaksud dengan deindustrialisasi adalah menurunnya peran industri dalam perekonomian secara menyeluruh. Deindustrialisasi ditandai dengan penurunan absolut dalam aktivitas industri manufaktur, khususnya bila diukur dari penyerapan lapangan kerja dan penurunan unit usaha dalam suatu daerah dalam jangka panjang.
Sebagaimana diketahui, China juga jauh lebih agresif mendorong ekspor ke luar negeri dalam bentuk skema kebijakan dan mendorong industri bersaing secara produktif. China bahkan menerapkan tarif pajak hingga nol persen yang secara langsung menekan harga ekspor. Oleh karenanya harga yang lebih kompetititf dan unggul dalam kualitas dari China akan lebih banyak menghiasi Indonesia setelah diberlakukannya FTA ini.
Jauh sebelum perjanjian kontrak ini saja pun produk-produk China telah membanjiri pasar secara tidak terkendali dan sudah sangat leluasa masuk ke dalam negeri. Ditambah lagi banyaknya penyelundupan-penyelundupan dari negeri tirai bambu tersebut tentu akan membuat kondisi industri Qt semakain terpuruk dan mati.
Mentelaah lebih jauh, banyak yang mengakui bahwasannya hampir kebanyakan –tidak semuanya- dari produk-produk china ternyata memang lebih murah dan lebih berkwalitas jika dibandingkan dengan produk dalam negeri dengan produk yang sejenis. Tentunya yang merasa diuntungkan dengan masuknya produk-produk import adalah para konsumen dan sebagian pedagang yang menjual produk-produk import khususnya dari China. Kenapa konsumen diuntungkan? Iya, karena mereka dapat berkesempatan membelanjakan uangnya untuk membeli produk produk tersebut dengan harga yang lebih murah tapi kwalitas lebih bagus.

 

Lalu bagaimana nasib bagi para produsen /perusahaan industri dan para pedagang lokal yang memang setia menjual produk hasil karya dalam negeri. Tentu mereka harus besaing keras tuk menghadapi perdangan bebas ini. Ada kekhwatiran, bahwasannya mereka akan lebih memilih beralih profesi menjadi importer kerena ketidakmampuan mereka menghadapi persaingan bebas ini. Jika hal ini terjadi maka bahaya deindustrialisasi di Indonesia tidak dapat terelakan. Artinya banyak perusahaan-perusahaan yang akan tutup alias gulung tikar dan tentunya pengangguran akan semakin banyak disebabkan tidak adanya kesempatan kerja yang cukup.
Jika berkaca pada produk-produk China, sebenarnya daya saing Indonesia sudah sangat jauh, produksi china harganya pun lebih rendah, bahkan lebih rendah dari produksi Indonesia. Kok bisa ya… produk china lebih murah dibandingkan Qt?. Menurut informasi yang saya peroleh… ada beberapa hal mengapa kok mereka bisa lebih murah.

Pertama, Pemerintah China dengan sangat sadar mendukung industrinya. Mereka menyediakan kredit ekspor yang diberikan kepada peminjam/para industri rumah tangga dengan pinjaman yang lunak. Bunganya Cuma 3 persen. Lah kalo disini, bunganya dari 12 hingga 15 persen. Parah….. jauh bangeeet bedanya.😦

Kedua, jika mereka tidak memiliki keahlian dalam kerajinan tangan ataupun lainnya mereka diberikan kesempatan untuk latihan/training khusus. Selain itu juga mereka diberi tempat khusus/balai latihan kerja.

Ketiga,  di setiap perumahan industri, pemerintah China menerapkan biaya listrik murah.

Keempat, Jika mereka ingin membuat tempat usaha, namun belum ada tempatnya, pemerintah siap memberikan tempat tuk usaha.

Kelima, supaya biaya produksi tidak tinggi, pemerintah melakukan pengontrolan upah tenaga kerja disetiap unit industri kerja. Selain itu juga mereka membuat kelompok-kelompok yang terikat dalam satuan industri yang didukung pusat dan daerah.

Keenam, pemerintah China membantu dana tuk memprosikan produk-produk mereka supaya dikenal masyarakat.

Ketujuh, kebijakan pemerintah China mem ”peg” mata uangnya sehingga jauh di bawah nilai wajarnya. Inilah faktor terpenting mengapa produk China bisa murah. Mem “Peg” maksudnya, mengaitkan mata uang suatu negara ke mata uang negara lain, seperti terhadap dollar AS. Akibatnya, produk-produk China bisa lebih murah secara artifisial.

Lalu bagaimana kebijakan pemerintah Indonesia terhadap nasib para pedagang/perusahaan industri Qt? Mhm… mengurus perizinan usaha aja susahnya setengah mati, belum lagi biaya2 yang dikeluarkan untuk ngurus inilah…itulah….Bayar inilah….itulah…belum lagi pungutan liar lainnya. Weleh…weleh…😦
Selain itu juga belum terpenuhinya ketersedian bahan baku yang memadai, kemudahan dalam memperoleh modal usaha dari Bank – kalau belum ada pengalaman dalam usaha sebelumnya, pinjaman dari bank gak bakalan dikasih, beban biaya listrik masih mahal, penyediaan seperti balai atau rumah2 yang dapat dijadikan “home industri” dari pemerintah juga belum kedengaran, di tambah lagi peraturan pemerintah yang tidak jelas, merupakan penghambat bagi perkembangan industri didalam negeri.
Bagaimana cara menumbuhkan daya saing yang kompetitif/seimbang supaya bisa melindungi perusahaan industri yang ada didalam negeri?. Dengan memiliki potensi kekayaan akan sumber daya alam dan potensi sumber manusianya, sebenarnya Qt mampu.
Qt harus belajar dari mereka. Industri-industri yang meliputi hajat hidup masyarakat dalam skala besar harus bisa dilindungi agar tidak dimakan produk industri dari China. Pemerintah perlu negosiasi ulang kesepakatan perdagangan, terutama untuk sektor-sektor yang belum siap. Pemerintah harus sungguh2 memberikan bantuan kepada perusahaan industri khususnya UKM sebagaimana kebijakan yang diterapkan pemerintah China terhadap para “home indutrinya”. Dan menurut saya adalah Gerakan Cinta Produk Indonesia harus kembali ditabuhkan kembali. Tumbuhkan dalam diri Qt tuk selalu mencintai produk Indonesia.

Misalnya Qt buat banner atau stiker dipasang di depan toko/mall dengan tulisan “Membeli 1 produk Kami berarti anda telah menyelamatkan satu karyawan kami dari PHK.”🙂
atau dengan membuat produk dengan logo seperti dibawah ini :


“I love U Pull Produk Indonesia”


Wallahu’alam


Aksi

Information

4 responses

1 03 2010
Najwa Zuhur

Tantangan kedepan semakin sengit dan menantang kita untuk menentukan pilihan. Dimana kita meletakkan kecintaan kita disaat:
1. Pasar tradisional meskipun tempatnya 50 meter dari supermarket
2. Lebih mengedepankan ekspor barang MENTAH BERKUALITAS dari pada barang jadi
3. Tingginya pajak Eksport dari pada biaya Import, jaminan buat para pengusaha
4. Birokrasi ‘mbuletisasi’ masih kental.
“itulah Indonesia . . .” Tapi, sebagai generasi penerus, tak hanya tau sisi negatif dan mengkritik aja. Tapi harus ada BUKTI, karena CINTA adalah TINDAKAN = BUKTI🙂🙂🙂

4 03 2010
Ruslan

saya setuju bgnt bahwa konsekwensi dari adanya perdagangan bebas, persaingan ekonomi kedepan akan semakin sulit.
1. iya, tetap memilih pasar tradisional meskipun katakanlah harganya relatif lebih mahal
biasanya klo saya mau belanja kebutuhan pokok, belinya di warung “Mini market”-nya Mpo’ Encak “promosi mode:on”,
meskipun jaraknya jauh… ratusan meter sama SuperMarket yang dekat rumah, saya tetap memilih warungnya Mpo’
bukti cinta ku sama mpok hehe…🙂
2. akan lebih baik lg klo mengimport barang jadi yang “Berkualitas”🙂 dari pada barang yg belum jadi : sebab selain memberikan masukan devisa yang lebih gede jg memberikan peluang kerja yg lebih besar. (menurut penerawangan saya selama kuliah xixi…).
tp realitanya Indonesia blm mampu mengimport barang jadi yang berkualitas dan dapat bersaing dengan negra2 lain😥
3.betul sekali….. jaminan pengusaha supaya mereka tidak gulung tikar atau mati karena mereka kalah bersaing dengan pengusaha2 luar negeri lantaran pengusaha2 Qt dikenai pajak ekspor yang tinggi dari pemerintahan Qt
4. “mbuletisasi” maksudnya berbelit-belit ya…. yg ini harus dibenahi.

btw , trima kasih sudah memberikan masukan dan kritikan2 cerdas yang membuat saya harus berputar2 otak dulu tuk menjawabanya🙄 ‘ ma’lum otaknya msh Pentium I😀 terus terang ini masukan yang sangat bermanfaat.

cinta -> tindakan = bukti!! ikuuuut🙂
salam🙂

6 03 2010
kikakirana

hmm,, tampaknya perekonomian di negara kita ini memang harus banyak sekali di benahi ya maz… klo menurut saya sich klo dari yg paling awal.. ijin usaha…
itu aja sudah susahnya setengah amit”.. mngkin orang juga bakalan mkir 2 kali buat bkin usaha. Mending ngikut orang aja daripada bikin usaha sendiri susah…

ditambah lagi dengan mental yang kurang kuat dari bangsa kita,,, orang china berani mengambil resiko demi mendapatkan hasil yang sebesar”nya dalam usahanya.. sedangkan orang kita, tampaknya masih kurang berani mengambil resiko untuk menjalankan usahanya.
tapi yaaaa …. balik lagi… huh… pantesan aja orang china berani ambil resiko…
karena mereka di jamin oleh pemerintah..
sedangkan orang” kita,,, begitu berani ambil resiko… salah langkah… bangkrut..
bangkrut sendirian dah… hehehe… (aduuuhhh sotoy ney si QK… :mrgreen:)

8 03 2010
Ruslan

bangkrut kok sendirian aja neng hehe…..
iya, Pengusaha kecil cobaannya berat, udah izin sulitnya, banyak pungli2nya lagi, yang legal maupun tidak,
kan kasian mereka yang ud cape2 usaha, blm tentu laku lgi dagangannya, eh ada yang minta jatah uang keamanan-lah “uang kebersihan-lah uang bulanan-lah.
mhm…jng2 blm ada sebulan usahanya bangkrut hiks😥😦

berani mengambil risiko, giat dan tekun, mungkin inilah kenapa kebanyakan china lebih mudah diberi pinjaman dan dipercaya jika meminjam uang dibank dari pd masyrakat Qt walaupun syaratnya-syaratynya banyak yang blm terpenuhi, misalnya jaminannya kurang, pengalaman usahanya belum cukup, (sok tau juga saya🙂 )

btw, trima kasih sudah berbagi pengetahuan.

salam😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s